Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2019

Saya dan 4 Tahun Tinggal di Darrosah

9 September, 2015, saat tiba di Ardhul Kinanah


"Catatan singkat ga penting-penting amat tentang lingkungan tempat saya tinggal."

Saya ditakdirkan untuk tinggal di Darrosah. Hingga kini, atau tepatnya tiga tahun, sebelas bulan. Kurang beberapa hari lagi tepat 4 tahun saya bertempat tinggal di Darrosah, sebuah muhafazah, wilayah setingkat kecamatan di pinggiran kota Kairo, Mesir. Sebuah daerah yang kaya akan nilai sekaligus  situs sejarah, karena diapit oleh dua masjid kebanggaan rakyat Mesir. Masjid Al Azhar dan Masjid Sayyidina Husein. Dua masjid fenomenal yang masing-masing menggambarkan peradaban yang saling menguatkan. Masjid Al Azhar menggambarkan keilmuan, dan Masjid Sayyidina Husein menggambarkan akhlak Islam, cinta Ahlul Bait. Keduanya mampu saya tempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki.

Semuanya berawal dari request saya pada Fahri Ganiardi, kakak kelas di Gontor dulu. “Ri, pokoknya gw pengen Flat deket kampus. Tempatin gw di sana! Karena kedekatan kami, dan status Fahri yang saat itu menjadi senior di IKPM Kairo, keinginan saya pun terkabul. Alasan saya ingin bertempat tinggal di sana  sebenarnya klasik, yaitu ingin lebih dekat dengan dunia akademik, karena saat itu perspektif mahasiswa Al Azhar yang urakan dan lebih banyak main masih menempel di kepala saya. Walaupun sempat terganggu dengan kata-kata Fahri yang mendeskripsikan lingkungan dekat perkuliahan dengan kumuh dan kotor, bagi saya itu masih lebih baik daripada projek tahun pertama saya tinggal di Mesir banyak terganggu.

Saya akhirnya tiba di Mesir pada tanggal 9, bulan September, tahun 2015, di Terminal 1 lama. Dan perjalanan pun dimulai. Saya masih ingat, saat itu musim panas memang sedang puncak-puncaknya. Saya lebih fokus pada penyesuaian badan dengan iklim dan cuaca yang baru daripada menelaah hal lain dari lingkungan tempat saya tinggal. Satu hal yang belakangan baru saya sadari adalah, saya tinggal di lingkungan semi industri, di mana pabrik-pabrik mikro home industri tersebar dan menjamur di sana. Hal ini tentunya tidak terlepas dari letaknya sebagai penyangga dua pasar besar di sekitarnya, yaitu Khan Khalili (pusat oleh-oleh termasyhur di Mesir) dan pasar Attaba (pasar tradisional warga Kairo).

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan flat yang dikelilingi pabrik sepatu dan pernak-pernik oleh-oleh tentunya. Namun realita itu membuat saya terpaksa mengakui bahwa sampah dan limbah industri tentunya akan menjadi makanan mata sekaligus parfum memuakkan sehari-harinya. Belum lagi kebiasaan penduduk daerah ini terbilang kurang terdidik untuk bersih. Berbagai macam sampah,  baik daur ulang maupun tidak dapat didaur ulang, hingga maaf, sampah yang seharusnya tidak layak dibuang tanpa bungkusan seperti pembalut wanita atau pampers bekas bayi  selalu menjadi pandangan sehari-hari berceceran di jalanan.

Pada tahun 2018 lalu sebenarnya pemerintah setempat sempat mengkampenyekan sebuah gerakan kebersihan bertajuk “khallik zay aadam, matirmisy hagah alal ardh.” Gerakan ini kurang lebih berarti ‘jadilah dirimu seperti nabi Allah Swt Adam, yang memulai peradaban kebaikan di dunia. Jangan merusaknya dengan cara membuang sampah sembarangan.’ Gerakan ini bersambut dengan dimunculkannya puluhan tempat sampah plastik berwarna hijau yang ditempel di pinggir-pinggir jalan besar. Dapat anda  tebak tentunya, kesadaran pemerintah tidak dibarengi dengan kesadaran warga, sehingga tempat sampah itu tidak lama hilang ditelan zaman. Sebagian dicuri, sebagian lagi rusak oleh tangan jahil warga.

Gerakan tersebut hanyalah isapan jempol sesaat. Tentu tak berdampak ke flat-flat sewaan kami, yang jauh masuk ke dalam haarat-haarat (seperti gang) kecil. Mungkin banyak mahasiswa overseas memilih lingkungan ini sebagai tempat tinggal karena dekat dengan aktivitas perkuliahan, baik formal maupun non formal. Kebetulan kampus utama universitas Al Azhar juga berada di lingkungan ini dengan tiga fakultas pamungkasnya, Ushuludin, Syariah dan Bahasa Arab. Walaupun hal itu tidak berlaku bagi saya yang ngampus di bilangan district 6. Namun bagi saya yang sudah lima kali pindah flat dalam lima tahun alasan klasik itu bagai pekat bau kotoran anjing yang saya hirup hampir tiap hari. Sekejap tajam, namun segera hilang.

Mengapa klasik? Simpelnya, karena saya tau alasan seperti ini harus ada masanya, dan sebaiknya dirasakan sejak awal. Roda kehidupan akan terus berjalan. Maksud saya, di masa depan, kawan-kawan baru tentunya akan menggantikan posisi saya sebagai mahasiswa Al Azhar. Dan alasan klasik seperti dekat dengan kampus sekarang tidak lagi bisa meligitimasi Anda untuk tinggal di Darrosah. Karena banyak pula mahasiswa Indonesia di luar lingkungan ini yang intensitas kehadiran kuliahnya melebihi kawan-kawan saya yang memang sehari-harinya memandang kampus dari jendela flat mereka.

Mungkin alasan lain yang bisa mewakili sebagian anggapan mahasiswa Indonesia adalah efisiensi waktu dan saku. Tentu mahasiswa kita akan lebih mengutamakan tempat tinggal yang sepuluh atau lima belas menit dari kampus daripada satu jam dari flat. Untuk alasan ini tampaknya dapat diterima oleh mahasiswa yang kerap jarang mengaktifkan jam paginya. Saya kerap melihat banyak catatan baik blog atau vlog keseharian mahasiswa overseas lainnya, jarak mereka ke kampus memang berbeda, tapi mereka sepakat bahwa jarak bukanlah masalah apalagi alasan untuk telat ngampus.

Dan lagi uang saku serta ketahanannya selama sebulan tampak berpengaruh besar pada kantung mahasiswa. Terlebih setelah pemerintah Mesir menetapkan kenaikan harga bahan bakarakhir-akhir ini, yang tentunya sangat berpengaruh pada ongkos kendaraan. Terkadang memang untuk hal-hal baik kita merasa berat mengeluarkan uang saku, bahkan untuk sekedar ongkos ke kampus. Apalagi untuk membeli buku-buku rujukan. Hal sebaliknya terjadi jika kita ingin menghadiri kegiatan lain yang sesuai dengan tendensi pribadi. Mari kita muhasabah, apakah kegiatan organisasi, HUT kekeluargaan, olahraga, shopping di City Center atau ngopi di Starbucks dan Cilantro melebihi pentingnya pertemuan kita dengan Dosen dan Masyayikh Al Azhar?

Bukan, saya bukan ingin mengatakan bahwa lingkungan Darrasah tidak layak lagi untuk ditempati pelajar, tapi mari sejenak kita ngopi, ngolah pikir!. Wilayah Darrosah empat atau lima tahun yang lalu faktanya berbeda dari sekarang. Perbedaan ini yang menjuruskan fikiran saya agar sebaiknya adik-adik mahasiswa baru, atau para pengurus broker untuk kembali mengukur dan menimbang sebelum menguatkan ‘azzam bertempat tinggal di wilayah Darrosah.

Majelis ilmu tidak selalu menjadi tempat tinggal ‘alim.

Semua warga Mesir yang berkiblat pada Al Azhar pasti mengakui bahwa wilayah Al Azhar dan sekitarnya adalah pusat dari kajian keilmuan. Di sana terdapat mesjid Al Azhar dan bilik-biliknya (ruwaq), lembaga fatwa Mesir, Darul Ifta juga berada di sana, tepat di sampingnya gedung Masyikha (Kantor Grand Syeikh Al Azhar) juga berada di sana, fakultas-fakultas yang banyak mahasiswa Indonesia menuntut ilmu juga ada di sana, belum lagi majelis ilmu non formal, atau yang kerap disebut talaqqy juga bertebaran di beberapa titik. Namun yang menjadi pertanyaan saya, mengapa jarang sekali dosen atau para masyayikh memilih tinggal di wilayah ini?

Seorang senior yang lebih dahulu datang ke Mesir saya tanyakan tentang hal ini, beliau hanya bilang bahwa lingkungan ini ‘asywai, “maksudnya, daerah ini kumuh, banyak yang tidak berpendidikan tinggal di sini, coba  aja kamu bandingkan bahasa yang dipakai anak sini, lebih kasar dari yang kamu temukan di (daerah) Asyir atau (daerah) Sabi’.” Dalam hati saya mengamini apa yang dikatakan olehnya, untuk yang tinggal di lingkungan ini tentunya gurauan “rasa” rasis pasti sering sampai ke telinga. Ya shiniyy... Ya shiniyyy!.

Tentunya saya tidak mengetahui latar belakang pasti para masyayikh jarang menempati lingkungan ini. Mungkin sebagian alasan sudah saya sebutkan di paragraf-paragraf awal. Lingkungan industri, lingkungan yang kotor dan minimnya kesadaran warganya untuk bersih adalah sebagian dari alasan beliau-beliau. Saat Umroh pada bulan Maret kemarin saya bertemu dengan seorang pakar kristologi alumnus Lipia, Jakarta, kesan pertama dia dengan Mesir dan Al Azhar adalah lingkungan kampus yang kotor dan sampah yang bertebaran di mana-mana.

Seorang kawan yang juga telah lebih dari sembilan tahun menetap di Mesir menimpali bahwa untuk menjawab kegundahan ini saya hanya perlu menanyakan seorang supir taksi atau siapapun yang tinggal di luar lingkungan ini. Dan benar saja, saat seorang supir taksi saya ajak bicara tentang lingkungan kami belajar, air wajahnya seraya berubah. Kurang lebih kata-katanya seperti ini, “Yang benar saja kalian tinggal di sana, lingkungan itu adalah sarang para pengedar kelas kakap. Terkenal dengan bisnis narkotika yang sulit untuk dijamah pihak berwajib.”

Harga sewa flat tidak sesuai dengan fasilitas

Flat pertama saya berada di kawasan belakang masjid Sayyidina Husein. Lantai 1, dengan 2 kamar sederhana, ruang tamu 2 x 2 meter, dan sebuah lorong yang di sampingnya terdapat dapur dan kamar mandi. Saat itu pemilik rumah membandrol harga sewa sebesar 1250 le (saat  itu sekitar 2.1 juta rupiah). Harga yang lumayan besar untuk fasilitas minimum yang kami dapatkan. Dengan harga seperti itu, saya lihat kawan-kawan lain bisa mendapatkan flat baru dengan 3 kamar besar. Apalagi saat itu, saya dan kawan se rumah mendapatkan tugas tambahan, yaitu membasmi tikus-tikus yang bersemayam di ruang antara dapur dan kamar mandi. Untung ada Maulana Taftanzani, dialah pawang tikus rumah saya. Syukron, Maulana.

Saat itu belum ada eksodus besar-besaran pelajar asing ke wilayah ini, di jalanan saya juga masih jarang melihat wajah-wajah khas Asia Tenggara. Warga Mesir masih banyak asing pada kami yang memang tak seberapa orang. Kami masih jadi “benar-benar” warga asing. Teringat saat pulang dari masjid menggunakan sarung dulu, sontak senior saya tertawa, “lu beneran ke mesjid pakai sarung?, di sini sarung tu digunain buat orang-orang jima’”. Pantas saja, sepanjang pulang tadi, lirikan gemas dan lucu terus mengikuti kibaran sarung yang saya gunakan. Sekarang, sarung bukan hal aneh bagi warga setempat. Sampai-sampai tak jarang saya lihat Masisir menggunakan sarung menaiki bis 80/. Mungkin biar lebih sepoi-sepoi ya dihempas angin.

Saat ini, apalagi saat  malam-malam bulan puasa anda akan temukan suasana seperti desa Anda di Mesir, para pria menggunakan sarung dan songkok, sementara wanitanya ayu dengan balutan mukena. Tentunya ini mengindikasikan adanya praktek akulturasi yang kuat di lingkungan saya berada. Para pelajar asing hari ini tidak sungkan untuk bergaul dengan warga Mesir, bahkan saya pernah menemukan seorang yang kedapatan mengutang sebungkus rokok di baqalah (warung kecil) dekat rumah saya. Tidak lama setelah saya melihat kejadian itu, tersebar kabar di laman gawai Masisir, kalau ada yang merokok di lingkungan kampus. Dalam hati, saya bergumam, “parah banget ya, udah rokoknya ngutang, eh malah nyebat di pelataran kampus.”  

Baiklah, mari kembali ke laptop. Tapi sebelum kembali membahas tentang harga sewa flat hari ini, agar lebih bijak mari kita melihat tabel berikut:

Tabel di atas merupakan pergerakan rupiah atas pond Mesir dan sebaliknya dalam 5 tahun. Dari sana dapat kita lihat bagaimana pond Mesir mengalami inflasi besar-besaran pada pertengahan 2016. Saat itu, rakyat Mesir menderita, dan pelajar asing tentunya bahagia. Butuh waktu beberapa bulan hingga harga barang-barang menyesuaikan dengan kurs mereka. Termasuk harga sewa flat.

Sekarang ini (setelah 5 tahun) harga sewa flat pelajar asing wilayah ini minimal sudah mencapai minimal 2500 le. Tidak jarang saya temukan harga yang lebih besar. Harga yang dibayarkan nyatanya terkadang belum termasuk harga listrik dan air. Sebutlah untuk pengeluaran sebuah flat dengan listrik dan air 3000 (2.5 juat rupiah), walau tidak terlihat terlalu besar signifikansi kenaikannya (sekitar 400 ribu rupiah), tetap saja harga tersebut lebih besar dari yang bisa dilihat kawasan-kawasan lain yang banyak ditempati mahasiswa asing, seperti daerah district 10, Mikawy dan Tabbah yang masih kisaran di bawah 2000 le. Dari sini saya melihat harga sewa properti di Mesir relatif dapat terkendali, hanya saja terdapat faktor lain yang membuat harga melambung dengan cepat.

Mau tidak mau saya akan mengatakan bahwa eksodus besar-besaran pelajar asing ke daerah ini adalah salah satu faktornya. Ditambah lagi kurang kuatnya ikatan para pelajar asing menjaga harga sewa di lingkungannya menyebabkan dengan mudah para makelar untuk menaikkan harga sewa. Tidak terkontrolnya harga sewa properti seperti ini tentunya akan terus menerus terjadi jika mahasiswa asing sendiri tidak melakukan evaluasi atau paling tidak mengatur kembali sistem penempatan adik-adik kelas yang kelak akan datang ke Mesir ini. Peran organisasi induk sangat dibutuhkan menyoal permasalahan ini, karena hal ini tidak bisa diselesaikan oleh satu dua pihak.  

Saya tidak mau memperpanjang tulisan ini agar jadinya tidak membosankan. Mungkin ada yang sepakat atau tidak dengan opini ini. Itu biasa. Bagi yang tetap ingin tinggal di lingkungan Darrosah ya.. silahkan dan nikmati saja, dan bagi yang ingin bermigrasi ke lingkungan ini semoga catatan saya di atas dapat berguna untuk pertimbangan Anda. Pada akhirnya saya ingin menguatkan pernyataan awal saya, bahwa saya memang ditakdirkan untuk tinggal di Darrosah, tidak ada lagi pertimbangan lain. Kalian tahu kan sangat sedikit peran manusia perihal takdir. Kegiatan dan jadwal harian saya sangat tidak terganggu dengan lingkungan saya. Jadi saya tetap akan ngaji, kuliah, dan pergi ke tempat kegiatan lainnya seperti biasa bukan hanya karena saya tinggal di Darrosah, karena saya tahu itu hanya karena takdir.


Rabu, 08 Maret 2017

Surat Cinta Ad Dzikr Untuk Manusia


Judul dari tulisan ini tidak ada hubungannya dengan lyric lagu Virgoun, Surat Cinta untuk Starla yang sekarang lagi booming diranah masisir, entah kenapa. Walaupun harus saya akuin lagunya enak didengar. Kembali ke laptop, Ad Dzikr merupakan salah satu dari nama Al Quran yang memang telah ditetapkan para ulama. Ia Merupakan bentuk masdar dari dzakara, yang sebenarnya mengandung makna ajektif, Pengingat.

Pengingat al Quran itu akan benar-benar terasa di beberapa halaman akhir dari Al Quran. Menurut klasifikasinya memang bagian ini merupakan kumpulan dari surat-surat makkiyah yang dirancang sedemikian rupa selayak refleksi bagi umat muslim yang lupa akan tujuan hidupnya, akhirat. Gugusan ayat pendek dengan diksi yang luar biasa indah, namun tak meninggalkan unsur intristiknya yaitu sebagai tandzir, peringatan menjadikan seorang pembaca al Quran akan menemukan suatu momen tersendiri walaupun ia tidak memahami bahasa arab.

Walaupun berbagai macam dzikr ditemukan diberbagai halaman dalam akhir-akhir al Quran, seperti hal ihwal metafisis seperti keadaan neraka dengan macam siksaannya tidak menjadikan al Quran kehilangan peminatnya (karena ketakutan). Bahkan pembaca seakan dibawa dengan tidak sadar pada sebuah gambaran fase kehidupan yang akan benar-benar dirasakan, pembalasan atas apa yang telah dilakukan didunia, apabila kebaikan maka baiklah akhirnya, begitupun sebaliknya.

Namun bagi saya, bagian akhir al Quran inilah sebenarnya surat Cinta dari al Quran. Walaupun dalam bentuk peringatan, ancaman dan terkesan ‘menakut-nakuti’ al Quran dengan berbaik hati memaparkan segala hal yang akan terjadi di akhirat. Bagaimana tidak, berbagai bentuk kehidupan nanti telah disebutkan dengan begitu jelas. Sebagai contoh, tentang penyesalan orang kafir di surat al Mulk, mereka berkata “andaisaja aku mendengar, atau aku berfikir maka aku tidak masuk golongan penghuni sa’iir (neraka).” Bentuk cinta al Quran adalah ajakan untuk berfikir, merenung, mentadabburi bahwa setiap ayat ini benar-benar akan terjadi.


Cinta bagi al Quran adalah penuntun yang melindungi, menaungi, menasehati, bukan membiarkan, skeptis, acuh. Dan Al Quran telah berhasil menunjukannya di juz-juz akhir-nya. Ayat pendek yang tegas, kuat tetapi tetap menggambarkan kasih itulah gambaran saya pada akhir-akhir al Quran. Sangat jauh jika dibilang tulisan ini telah mewakili keseluruhan dari akhir-akhir al Quran atau bahkan cinta al Quran sendiri pada umat, namun bagi saya torehan tinta ini sekaligus penambah motivasi saya yang sedang berkasih dan bersayang dengan juz 29. 

Senin, 30 Januari 2017

Membangun Umat Dengan Bernegara


Hingga saat ini jumlah negara yang terdaftar dalam PBB adalah 193 negara termasuk Indonesia didalamnya. Ditambah  Palestina dan Vatikan sehingga jumlahnya 195 negara. Belum lagi negara-negara yang hingga sekarang belum diakui keberadaannya oleh PBB dikarena syarat kenegaraannya masih dianggap kurang. Negara-negara tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi 7,3 miliar penduduk dunia (sensus 2015). Setiap individu manusia di dunia ini telah terikat oleh minimal satu KTP (Kartu Tanda Penduduk) negara tertentu. Secara tidak sadar keterkaitan manusia dengan sebuah negara telah menjadi syarat bagi seseorang yang terlahir ke dunia ini. Ada yang terikat oleh negara tertentu dikarenakan kewarganegaraan orang tua -Ius Sanguinis- seperti Republik Indonesia dan ada pula yang terikat pada sebuah negara dikarenakan tempat kelahiran –Ius Soli- seperti Amerika Serikat. hemm.. apakah ini hanya sebuah kebetulan?

Tidak sampai disitu, setiap manusia  tumbuh dan berkembang dengan watak dan sifat yang sesuai dengan negara dimana ia lahir. Asupan pendidikan yang diberikan pun menyesuaikan nilai-nilai yang diakui oleh negaranya.  Sehingga bahasa, kepribadian, pakaian dan tingkah laku manusia itu sungguh  tidak keluar dari norma negara yang ditinggalinya. Ah, mungkin ini hanya kebetulan yang kesekian kalinya.

Dalam hal ini Ibnu kholdun dalam master piece-nya Muqaddimah menyatakan bahwa manusia adalah produk dari lingkungannya Al Insanu Madaniyyun Bithob’i. Hingga sampai titik ini saya berani berucap bahwa bernegara adalah tabiat dari seorang manusia dan lingkungannya.
Disadari ataupun tidak  umat manusia kini benar-benar telah ‘dikotak-kotaki’ oleh sebuah kosakata yang disebut negara. Lantas dari ratusan negara ini terbentuklah sebuah harmoni kemanusiaan dunia yang dinamis. Setiap negara menunjukan ke-eksistensiannya dengan berbagai cara; bahasa,budaya, agama, sejarah, alam, daratan, lautan, udara semuanya menjadi cermin identitas negaranya.  Tak ada iri, pamrih atau bahkan menyesal terlahir menjadi warga suatu negara. Semua warga dunia secara defacto seakan ‘rela’terlahir untuk tercatat sebagai  warga suatu negara tertentu. Bahkan dikarenakan sejarah, budaya, bahasa, kondisi alam suatu negara tak sedikit yang berbangga dengan negaranya. Hemm..Lantas sekali lagi apakah ini hanya sebuah kebetulan?

Lantas bagaimana sebuah negara dapat terbentuk? Konsep negara tidak serta merta terjadi tanpa sebab,  beberapa ketentuan dan mufakat bersama terlahir untuk sepakat membuat negara. Disana terdapat kumpulan komunitas manusia yang menempati sebuah daerah teritorial tertentu untuk rela diatur oleh sebuah pemerintahan. Kemudian, demi keamanan dan ketertiban maka dibuatlah peraturan dan undang-undang untuk memastikan tak ada warga yang dirugikan, batasan-batasan negara pun perlu dibuat untuk membatasi dan mencegah bagi komunitas manusia lainnya yang memiliki nilai dan tujuan tak sejalan memasuki daerahnya. Semuanya didesign agar rasa toleransi dan saling menghargai dapat tetap terjaga.

Satu hal yang perlu diketahui dari sejarah peradaban manusia dengan segala perkembangannya mengantarkan kita pada sebuah realitas sosial yang sudah selayaknya kita terima. Dalam hal ini saya menitikberatkan pada nilai berbangsa dan bernegara. Allah SWT berfirman dalam surat  Al Hujurat ayat 13:
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“wahai umat manusia sesungguhnya kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui dan Teliti.”

Berbangsa dan bernegara adalah sebuah ketentuan yang telah diatur oleh Sang Pencipta –Sunnatullah-. Jika dahulu kala manusia hidup nomaden, berpindah dari satu tempat ke lain tempat, dan hidup terkurung dalam nilai dan norma yang individualis. Maka sunnatullah mengajarkan kita untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas disebuah tempat yang disebut negara. Walaupun negara terlahir dari berbagai idealis dan dari berbagai kepentingan, namun para pendahulu seakan ingin mengatakan bahwa : “satu cita-cita telah menyatukan kami, ialah cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik dan terlepas dari interfensi bangsa penindas”.

Indonesia adalah salah satu dari interpretasi sunnatullah itu. Ia merupakan salah satu dari Syu’ub yang disebutkan oleh Allah SWT di Surat al Hujurat tadi. Keberadaannya sekarang merupakan wujud dari kesatuan  visi dan misi berbagai etnis, kelompok, suku dan tentunya agama yang tinggal ditanah yang sama. Karena tidak ada satu agama pun yang mengajarkan penindasan dan kesewenangan antar sesama maka mereka (Rakyat Indonesia) bersama menggalang kekuatan untuk menghempaskan penjajahan di Nusantara.

Islam sebagai salah satu entitas besar dalam Negara Indonesia tak kalah besar  mengambil peranan  dalam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah mencatat bahwa tak sedikit darah dan keringat para ulama dan umat islam yang tercucur di medan perang mengusir para penjajah dari Tanah Khatulistiwa. Jiwa nasionalisme yang didasari agama terpatri dalam kalbu mereka sebagai upaya membentuk sebuah kesatuan di Indonesia.

Dalam hal ini (Nasionalisme) Rasulullah SAW dalam hadis-nya mengutarakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani, Hakim dan Baihaqi:
 أحب العرب لثلاث: لأني عربي، والقرءان عربي، وكلام أهل الجنة عربي.
“Aku mencintai Arab karena tiga hal: karena aku adalah seorang Arab, Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, dan bahasa yang digunakan oleh penduduk surga adalah bahasa Arab.”
Rasulullah dianugerahi Jawami’ul Kalim oleh Allah SWT,  setiap kata yang terucap dari beliau memiliki makna yang tersirat dan tersurat. Secara tersurat Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Umat Arab dan Bahasa Arab yang menjadi perantara tersebarnya Islam didunia. Namun secara tersirat Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dirinya pun manusia biasa yang terlahir dari sebuah komunitas biasa yang bernama Arab. Maka Beliau SAW mencintai Arab.

Sebagai muslim yang cendikia selayaknya kita menyadari tanda yang sangat jelas ini. Bahwa kini Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengisyaratkan medan pembangunan masyarakat yang  lebih spesifik. Ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan Turki Islami pada tahun 1924 di Turki,  menyusul dengan terpecah belahnya umat islam setelah Perang Dunia I dan II dan terpecah belahnya umat islam menjadi kedalam negera-negara kecil. Maka Negara dengan Nasionalisme adalah wadah utama pembangunan umat.

Akan tetapi perlu dipahami bahwa Negara adalah sekumpulan individu yang berasal dari berbagai nilai, ideologi, ras, keturunan dan agama yang menempati wilayah tertentu dan diorganisasi oleh pemerintah. Asas-asas toleransi dan tenggangrasa perlu dikedepankan dalam proses pembangunan. Maka seseungguhnya nilai yang paling tepat diterjemahkan dalam pembangunan negara adalah kebersamaan, saling mencintai dan menghormati antar sesama.

Nilai-nilai ini sudah terkandung secara eksplisit dalam surat An Nahl ayat 125:
  ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuahnmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka danegna cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Dikala suhu politik dunia sedang memanas seperti sekarang, selayaknya agama dan nilai kasihnya yang religius dapat menjadi sebuah solusi yang membangun bukan sebaliknya malah menjadi bumerang yang menyerang diri sendiri. Dewasa ini banyak kekerasan dan kelaliman yang terjadi mengatasnamakan agama sebagai landasan. Sungguh hal ini merupakan  sebuah kepicikan, karena negara bukan saja tidak mengajarkan kekerasan namun sangat menentang kelaliman yang terjadi di dunia.

Pembangunan masyarakat melalui agama menjadi hal yang niscaya di zaman ini tentunya dengan menyesuaikan metode dan nilai yang patut di aplikasikan. Maka nilai-nilai egosentris individualis dan diktatoris gaya Adolf Hitler yang telah membunuh jutaan kaum Yahudi atau Abul Abbas Assafah yang Membantai Saudara se-Iman dari Bani Umayyah telah habis masanya selayaknya dikesampingkan dan lebih mengedepankan nilai kemanusiaan yang lebih Rahmatan lil Alamin.